Mitos Megenai Seks

Mitos Megenai Seks.
Seks mungkin merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan dalam kehidupan masyarakat. Hali ini tentu sangat memprihatikan mengingat pengetahuan seks itu sangatlah penting. Apabila pengetahuan mengenai seks yang diterima salah maka akhirnya akan memunculkan berbagai mitos-mitos mengenai seks yang tidak dapat dibuktikan kebenaran imiahnya. Sehingga akan muncul berbagai akibat, resiko, dan ketidaktepatan aktivitas seks. Berikut ini adalah beberapa mitos yang banyak beredar di kalangan masyarakat luas.

Mitos #1 Gairah seks pria lebih besar daripada wanita.
Benarkah pria mempunyai gairah seks yang lebih besar? Secara umum, usia 17 – 35 tahun merupakan usia reproduktif sehingga pada usia tersebut pria maupun wanita memiliki gairah seks yang cukup tinggi. Pada pria, gairah seks dikendalikan oleh hormone yang kadarnya tidak sama pada tiap orang, hormone tersebut adalah hormone testosterone. Sedangkan pada wanita, gairah seks dikendalikan oleh hormon estrogen. Pada wanita, estrogen merupakan salah satu hormon yang berperan dalam menjaga kondisi epitel vagina dan memungkinkan terjadinya lubrikasi vagina. Hormon ini akan berkurang selama laktasi atau menopause, sehingga pada saat itu seringkali gairah seks pada wanita menjadi berkurang. Berbagai faktor lainnya seperti pengobatan tertentu, stres emosional, dan kelelahan fisik dapat mempengaruhi gairah seks seseorang. Jadi gairah seks pria tidak lebih besar dibandingkan wanita.

Mitos #2 Orang yang sudah tua sudah tidak berminat melakukan hubungan seks.
Seks adalah kebutuhan setiap individu sampai usia berapapun. Tidak ada batasan usia pada seksualitas, hanya saja untuk orang dengan usia di atas 40 tahun, kepuasan seksual lebih bergantung pada kualitas suatu hubungan daripada yang dilakukannya ketika masih muda. Pada masyarakat umumnya terutama wanita dengan bertambahnya usia, khususnya pascamenopause, frekuensi dan kepuasan hubungan seksual akan menurun.Hal ini dikarenakan terjadi penurunan estrogen dan menyebabkan penipisan epitel vagina sehingga sering menyebabkan dispareunia (nyeri saat berhubungan). Sedangkan untuk lelaki, umur seringkali menyebabkan penurunan kemampuan ereksi. Walaupun kemampuannya menurun, tetapi bukan berarti orang yang sudah tua tidak berminat lagi melakukan hubungan seks. Penyakit atau medikasi tertentu pada orang usia lanjut juga seringkali mengganggu fungsi seksual.

Mitos #3 Setiap wanita yang masih perawan akan mengeluarkan darah saat pertama kali melakukan hubungan intim.
Perdarahan pada wanita pada pertama kali berhubungan intim disebabkan karena robeknya selaput dara. Selaput dara merupakan suatu lapisan yang tipis dan halus. Pada umumnya, selaput dara tidak menutupi semua pintu masuk vagina seluruhnya karena harus memberi jalan keluar untuk darah menstruasi. Hymen atau selaput dara sendiri mempunyai berbagai macam bentuk, ukuran, dan elastisitas. Selaput dara yang sangat elastis akan sulit robek, sehingga ada wanita yang telah melakukan hubungan intim berkali – kali, tetapi tidak mengalami perdarahan. Selain disebabkan oleh hubungan intim, selaput dara juga dapat robek karena aktivitas fisik seperti olahraga . Sehingga wanita yang tidak mengalami perdarahan ketika melakukan hubungan seks pertama kali tidak selalu berarti bahwa dirinyaa tidak perawan.

Mitos #4 Ukuran penis yang lebih besar, memberikan kepuasan yang lebih besar.
Ukuran organ vital pria (penis) tidak menjamin kualitas suatu kepuasan hubungan seksual. Beberapa penelitian dilakukan oleh suatu organisasi kesehatan di Amerika dan disimpulkan bahwa hal yang utama untuk mencapai kepuasan seksual pada wanita adalah adanya rangsangan pada klitoris.

Mitos #5 Loncat – loncat setelah melakukan hubungan seks mampu mencegah kehamilan
Kehamilan dapat terjadi jika terjadi pertemuan antara spermatozoa dengan sel telur. Faktanya, ketika spermatozoa sudah memasuki vagina, maka spermatozoa akan mencari sel telur yang telah matang untuk dibuahi. Loncat – loncat tidak akan mengeluarkan spermatozoa. Sehingga tetap ada kemungkinan untuk terjadinya pembuahan atau kehamilan.

Mitos #6 Kondom , merupakan kontrasepsi yang 100% aman dalam mencegah kehamilan
Kondom merupakan suatu bentuk sarana yang menghalangi transmisi cairan antar partner seksual saat melakukan hubungan intim. Kondom tidak 100% efektif terutama jika tidak tepat dalam penyimpanan dan penggunaannya. Kemungkinan robek pun juga cukup besar, karena itu perlu diperhatikan cara penyimpanan dan penggunaan kondom sehingga tidak mengurangi efektifitasnya.

Mitos #7 Mandul sama dengan impoten
Mandul merupakan suatu keadaan pria yang tidak dapat memproduksi sperma. Sehingga kalaupun ia mampu ereksi dan mampu mengeluarkan mani saat berhubungan tetap tidak akan terjadi kehamilan. Hal ini dikarenakan maninya mengandung sedikit sperma, sperma cacat, ataupun tidak mengandung sperma.
Sedangkan impoten merupakan suatu keadaan di mana penis tidak bisa ereksi sehingga tidak dapat melakukan senggama. Tetapi belum tentu dia tidak dapat memproduksi sperma sehingga mungkin saja terjadi kehamilan. Teapi caranya tidak melalui senggama, melainkan melalui proses inseminasi buatan (bayi tabung).

Mitos #8 Pria yang sering menggunakan celana dalam ketat, dapat menyebabkan kemandulan.
Hal tersebut memang benar, buah zakar berfungsi membentuk dan menampung mani yang berisi sel – sel sperma, sebelum dikeluarkan melalui penis saat ejakulasi. Sel – sel sperma ini sangat rentan terhadap panas dan asam. Jika pria sering memakai celana dalam dan atau celana luar yang ketat, akan mengganggu sirkulasi udara di daerah itu, sehingga akan merusak sel – sel sperma.

Mitos #9 Infeksi Menular Seksual dapat Dicegah dengan Mencuci Alat Kelamin
Faktanya tidak ada sabun atau disinfektan apapun yang dapat mencegah infeksi menular seksual. Justru pada perempuan, jika mencuci bagian dalam vagina terlalu sering akan mengurangi kadar keasaman pada permukaan vagina yang akan mengganggu flora normal vagina.

Mitos #10 Infeksi Menular Seksual Tidak Akan Menular Melalui Seks Oral
Penyebaran virus HIV melalui seks oral memang jarang, namun penyakit kelamin tetap dapat ditularkan melalui seks oral. Penyakit yang paling umum ditularkan melalui seks oral adalah virus herpes, kutil pada genital, gonorrhea, sipilis, dan penyakit lainnya. Bahkan dapat juga terjadi kanker mulut akibat infeksi dari Human Papilloma Virus.

Sumber:

0 comments:

Poskan Komentar

Blog Archive